Senin, 14 November 2011

mem-pancasilakan teknologi informasi


Mem-Pancasila-kan Teknologi Indonesia

Indonesia atas keanekaragaman budaya yang multi etnis, sangat kaya dan sangat bervariatif, ini dapat dilihat dari kacamata pandang geografis dan demografis. Dari sudut Geografis Indonesia adalah daerah tropis yang subur terdapat beberbagai jenis agrikultur, bahkan mencapai jutaan varian, suatu keajaiban tanah, sawah dan ladang, bahkan kata Koes Plus, tongkat pun kalau ditanam akan jadi tanaman, menggambarkan kesuburan tanah Indonesia. Dan ini mempengaruhi kultur daerah diantara daerah-daerah yang lain. Dari sisi Demografis Indonesia terdiri dari multi etnis, sebagai perwujudan dari lukisan alam di berbagai pelosok seantero Indonesia. Dari ke semuanya itu, Indonesia berdiri dalam suatu keutuhan. Menjadi kesatuan dan bersatu di dalam persatuan yang kokoh di bawah naungan Pancasila dan semboyannya, Bhinneka Tunggal Ika.
Di dalam Pancasila terkandung banyak nilai di mana dari keseluruhan nilai tersebut terkandung di dalam lima garis besar dalam kehidupan berbangsa negara. Perjuangan dalam memperebutkan kemerdekaan tak jua lepas dari nilai Pancasila. Sejak zaman penjajahan hingga sekarang, kita selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila tersebut. Memang sebelum proklamasi kemerdekaan unsur-unsur yang terdapat didalam Pancasila telah kita miliki, telah kita amalkan didalam adat-istiadat kita, didalam kebudayaan kita dalam arti luas,didalam agama-agama kita. Sungguh ketika belum, bernegara Republik Indonesia yang kita proklamasikan, bangsa kita sudah ber’Pancasila”. Bagaimanapun juga beraneka rupa keadaan-keadaan pada suku-suku bangsa, dalam adat istiadat, dalam hal kebudayaan dalam arti luas, dalam hal keagamaan, namun didalamnya terdapat kesamaan unsur-unsur tertentu.[i] Unsur-unsur yang terdapat dalam Pancasila sudah terdapat sebagai asas-asas dalam adat-istiadat kita, kebudayaan kita, sudah terdapat sebagai asas kenegaraan kita.
Dengan demikian banyak sedikit dapat diistilahkan, bahwa kita ber-“pancasila” dalam tri-prakara, dalam tiga jenis, yang bersama-sama kita miliki, maka tidak ada pertentangan antara Pancasila Negara,”Pancasila”-adat-kebudayaan dan “Pancasila”-religius. Ketiganya saling memperkuat satu sama lainnya.  Negara ber-pancasila berarti memperkuat dan memperkembangkan bangsa indonesia, bangsa indonesia bersama agama dan berkebudayaan, sedangkan beragama dan berkebudayaan berarti memperkuat memperkuat dan memperkembangkan nilai-nilai dari Pancasila Negara. Tidak jauh dari hal itu, Pancasila membuat bangsa Indonesia tetap teguh dan bersatu di dalam keberagaman budaya dan menjadikan Pancasila sebagai dasar kebudayaan yang menyatukan budaya satu dengan yang lain. Karena ikatan yang satu itulah, Pancasila menjadi inspirasi berbagai macam kebudayaan yang ada di Indonesia.
Jika perilaku itu adalah merupakan perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya maka disitu akan timbul sebuah nilai-nilai yang sangat penting yaitu budaya. Manusia diciptakan rasa dan karsa untuk membuat dirinya terus berkarya dan hidup mandiri dalam mengembangkan pola pikirnya. Masyarakat bangsa Indonesia dewasa ini tengah membangun dan akan terus membangun serta berusaha menyamakan tingkat perkembangannya dengan bangsa yang maju lainnya di dunia ini. Bangsa Indonesia kini tengah berada di arus perkembangan yang sangat pesat dari segala aspek kehidupan mulai dari teknologi, informasi dan ilmu pengetahuan. Walaupun di tengah arus perkembangan ini toh hampir di seluruh pelosok tanah air baik mereka yang berada di pedesaan maupuan berada di tengah kota besar masih terlihat dengan jelas bahwa banyak masyarakat Indonesia masih sangat kuat berpegang pada adat kebiasaan serta mentalis para leluhur mereka.[ii]
 Bagi kebanyakan orang Indonesia tujuan hidup adalah kesatuan dengan seluruh kosmos yang dilihatnya sebagai subjek yang secara analogis mempunyai kepribadian seperti dirinya, suatu daya kekuatan dan yang tidak boleh ditaklukan demi kepentingan manusia. Seluruh kosmos perlu dijaga dan dilindungi sedemikian rupa sehingga adanya kesatuan dan keharmonisan dengan manusia.[iii]  Dalam sejarah perkembangan bangsa indonesia ditemukan beberapa pengaruh dasar penting dan secara jelas menunjukkan identitas dan kualitas dari masyarakat indonesia itu sendiri yang berbeda dari bangsa lain seperti contoh gotong royong, tepo seliro dan saling menghormati satu sama yang lainnya. Seperti yang diucapkan dalam pidato Ir. Soekarno:
“Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, b e r s a m a- s a m a ! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. A m a l semua buat kepentingan semua, k e r i n g a t semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama!”(soekarno, pidato lahirnya pancasila 1 Juni 1945)
Dalam hubungan sosial dengan orang lain, perlu sekali tercipta keharmonisan yang dapat direalisasi lewat korelasi, gotong royong solidaritas, musyawarah serta saling pengertian yang mendalam. Hal-hal tersebut merupakan ciri khas kepribadian manusia indonesia dengan solidaritas yang kuat dan tidak terbatas pada keluarga, lingkungan melainkan mencakup masyarakat luas dari berbagai  golongan, maka keharmonisan dan ketentraman dapat direalisasikan. Rasa solidaritas manusia Indonesia tidak dapat diragukan dalam arti bahwa relasi antara individu-individu tidak hanya terikat pada lingkungan yang sempit tetapi justru meluas. Hal ini terasa sangat kuat hingga dewasa ini[iv].
 Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini kadang kita menjadi sikap yang sangat acuh atau individual  tidak memikirkan yang lain baik orang lain dan alam sekitar kita sehingga tidak terjadi keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, manusia dengan tuhan. Pembangunan karakter bangsa yang sudah diupayakan dengan berbagai bentuk, hingga saat ini belum terlaksana dengan optimal. Dengan terjadinya pelapisan sosial, maka dapat diharapkan bahwa lapisan ataslah yang mempunyai kewenangan besar, tetapi juga tanggung jawab terberat untuk mempertahankan kebudayaannya, Namun hal ini tidaklah berarti bahwa lapisanm-lapisan masyarakat laintidak memiliki kebebasan dan kemandiriannya tersendiri dalam upaya pengembangan kebudayaan[v].
Dalam banyak kasus kenegaraan, pelapisan sosial tidaklah amat ketat karena di dalamnya dimungkinkan terjadinya mobilitas sosial vertikal. Dalam hal itu, yang tampak lebih menonjol adalah adanya kelompok-kelompok di dalam masyarakat yang didasarkan pada jenis-jenis pekerjaan atau aktivitas yang secara umum dilakukan di dalamnya.
Lapisan-lapisan ataupun kelompok-kelompok kemasyarakatan itu, pada umumnya dapat dikenali melalui penanda-penanda budaya yang sengaja diciptakan sebagai sarana identitas. Contoh yang paling nyata adalah dalam hal busana. Sehingga dalam transformasi era globalisasi ini masih banyak kalangan yang belum siap menerima perubahan baik dalam bidang teknologi,gaya hidup maupun informasi sehingga banyak sekali dampak negatif yang didalami oleh bangsa ini seperti pergaulan bebas dan pornografi dikalangan remaja mungkin efek dari pemanasan global seperti orang bilang di tahun 1900an manusia lebih senang memakai pakaian tertutup dikarenakan cuaca yang dingin kemudian ditahun millenium ini banyak sekali manusia memakai pakaian terbuka yang dibilang bahwa cuaca sekarang ini sangatlah panas.
Di dunia informatika ini banyak sekali permainan yang dibilang membuat manusia menjadi individu dan semuanya dapat di kerjakan dengan praktis yang membuat otak kita seakan-akan berkarya dengan sendirinya padahal semua itu dibilang otak digital yang serba instan atau dibilang copypaste sehingga dalam dunia pendidikan ini bukannya kita menjadi akademik yang bisa membuat karyanya sendiri tapi merangkai karyanya orang lain.Sedangkan didalam bidang media informasi sendiri saat ini semua media tradisional di Indonesia sedang berlomba membuat versi online seiring dengan perkembangan jumlah pemakai internet di Indonesia, dimana saat ini sudah mencapai 25% dari total penduduk Indonesia (Tempo, edisi 5 April 2009).
Artinya Masyarakat Indonesia ini lebih senang menggunakan media informasi berbentuk online dibandingkan media baca seperti koran ataupun buku-buku yang menambah pengetahuan belum lagi dalam media online ini bisa mempengaruhi komunikasi dan permainan yang dibilang nge trend atau orang bilang tidak ketinggalan zaman. Belum lagi kasus yang menimpa para pemimpin kita ketika mengikuti rapat di dewan pimpinan malah mengunduh video yang tidak sepantasnya di unduh. Dilihat dari pemimpin saja sudah tidak memberikan moral yang baik kepada publik bagaimana dengan generasi mudanya mungkin banyak sekali yang tidak lebih pantas dari pemimpin itu. 
senang mengabadikan tubuh yang tak berhalang
padahal hanya iseng belaka
ketika birahi yang juara
etika menguap entah kemana 
               (lagu Efek Rumah Kaca,Kenakalan Remaja DI Era Informatika)
Sebait lagu ini menceritakan gejala-gejala dari dunia informatika Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?
Balik lagi kenilai-nilai budaya yang dimiliki indonesia yang membentuk kolektiv serta membangun jiwa kebersamaan dari setiap generasi pemuda kita yaitu foklor dan permainan tradisional anak. Foklor adalah bagian dari kebudayaan dari berbagai kolektif di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya, yang disebarkan turun-temurun di antara kolektif-kolektif yang bersangkutan, baik dalam bentuk lisan, maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat/mnemonic devices[vi].Foklor dapat berupa ungkapan bahasa,cerita rakyat, kepercayan rakyat,teka-teki, musik rakyat hingga permainan rakyat atau yang disebut dengan permainan tradisional.
Permainan tradisional merupakan merupakan kekayaan budaya bangsa yang mempunyai nilai-nilai luhur untuk dapat diwariskan kepada anak-anak sebagai generasi penerus. Permainan anak tradisional merupakan permainan yang mengandung wisdom, yang memberi manfaat dalam perkembangan anak yang mempunyai hubungan erat dengan perkembangan intelektual,sosial,emosi,dan kepribadian anak. Seperti contoh permainan aktivitas yaitu engklek, lompat tali, permainan lompat karet,dan sebagainya. Walaupun permainan ini hanya sebatas lelucon praktis tapu memiliki sejarah yang panjang dan tak pernah dilupakan pada kalangan anak kecil hingga dewasa. Inilah yang harus dibangun oleh bangsa Indonesia terutama untuk generasi pemudanya supaya membangun solidaritas yang hanya dibangun oleh permainan anak-anak sehingga ketika menghadapi era informatika yang modern tidak menjadi culture shock yang hanya bisa mengikuti perkembangan informatika saja tetapi tidak lupa dengan karakter bangsa kita ini.
Gaya hidup yang diajarkan oleh media massa tersebut membuat kita semakin terkikis dengan jati diri bangsa ini yang menganut pada pancasila, coba kita melihat kepada sila kedua pancasia, disitu tertulis mengenai kemanusiaan yang adil dan beradaab. Ya,kemanusiaan yang adil dan beradab akan tetapi lihatlah sekarang. Seiring perkembangan jaman apakah kita menjadi manusia yang beradab. .??? ataukah kita menjadi manusia yang biadab tanpa ada lagi rasa memiliki Indonesia dan menjadikan kita semakin terpecah belah satu sama lainnya. Sikap primordialisme semakin menguat seiring dengan perubahan jaman menjadikan perpecahan dalam bangsa ini.
Marilah kita berbenah mengenai masalah pelik yang melanda Indonesia untuk menjaga integrasi dari Indonesia yang sedang sekarat menjaga keutuhan persatuan dan kesatuannya menuju Negara maju.

Catatan kaki


[i] Prof. Dr. Mr. Drs Notonagoro.1987. Pancasila secara ilmiah populer.Jakarta Pusat. Bumi Aksara
[ii]Dr. Ozias, Fernandez  Stephanus.1990. Citra Manusia Budaya Timur dan Barat .Flores.Nusa Indah.
[iii] Notohamidjojo,O. 1974. Attitude dalam Pembangunan. Jakarta Pusat. BPK Gunung mulia.
`[iv] Koentjaraningrat.1974:103-106. Kebudayaan.Mentalit dan pembangunan.Jakarta.PT Gramedia,
[v].Sedywati, edy. 2006. Budaya Indonesia.Kajian arkeolog,seni, dan sejarah. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada.
[vi] Danandjaja, J.1986. Foklor Indonesia: Ilmu gossip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta.PT.Grafitipers.


Trenggono Pujo Sakti & Rinno Widodo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar